Jumat, 07 April 2017

fisika atom molekul



STRUKTUR ATOM DAN IKATAN ANTAR ATOM
1.      STRUKTUR ATOM
1.1.MODEL ATOM
a)      Model Atom Dalton
1)      Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil.
2)      Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang tidak dapat dipecah lagi.
3)      Atom suatu unsur sama memiliki sifat yang sama, sedangkan atom unsur berbeda, berlainan dalam massa dan sifatnya.
4)      Senyawa terbentuk jika atom bergabung satu sama lain. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen
5)      Reaksi kimia merupakan pemisahan atau penggabungan atau penyusunan kembali dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Teori atom Dalton ditunjang oleh 2 hukum alam yaitu :
1.   Hukum Kekekalan Massa (hukum Lavoisier):massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.
2.   Hukum Perbandingan Tetap (hukum Proust):perbandingan massa unsur-unsur yang menyusun suatu zat adalah tetap.
Kelebihan  :Mulai membangkitkan minat terhadap penelitian mengenai model atom.
Kelemahan:Teori atom Dalton tidak dapat menerangkan suatu larutan dapat menghantarkan arus listrik.
b)     Model Atom Thomson
Setelah ditemukannya elektron oleh J.J Thomson, disusunlah model atom Thomson yang merupakan penyempurnaan dari model atom Dalton. Atom terdiri dari materi bermuatan positif dan di dalamnya tersebar elektron bagaikan kismis dalam roti kismis. "Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan negatif elektron".
Kelebihan   :Membuktikan adanya partikel lain yang bermuatan negatif dalam atom. Berarti atom bukan merupakan bagian terkecil dari suatu unsur.
Kelemahan:Model Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif dan negatif dalam bola atom tersebut.

c)      Model Atom Rutherford
1)      Rutherford menemukan bukti bahwa dalam atom terdapat inti atom yang bermuatan positif, berukuran lebih kecil daripada ukuran atom tetapi massa atom hampir seluruhnya berasal dari massa intinya.
2)      Atom terdiri dari inti atom yang bermuatan positif dan berada pada pusat atom serta elektron bergerak melintasi inti (seperti planet dalam tata surya).
3)      Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan
4)      Atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif.
Kelebihan   :Membuat hipotesa bahwa atom tersusun dari inti atom dan elektron yang mengelilingi inti.
Kelemahan Model Atom Rutherford :
1)      Ketidakmampuan untuk menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke inti atom akibat gaya tarik elektrostatis inti terhadap elektron.
2)      Menurut teori Maxwell, jika elektron sebagai partikel bermuatan mengitari inti yang memiliki muatan yang berlawanan maka lintasannya akan berbentuk spiral dan akan kehilangan tenaga/energi dalam bentuk radiasi sehingga akhirnya jatuh ke inti.
d)     Model Atom Niels Bohr
Model atomnya didasarkan pada teori kuantum untuk menjelaskan spektrum gas hidrogen. Menurut Bohr, spektrum garis menunjukkan bahwa elektron hanya menempati tingkat-tingkat energi tertentu dalam atom. Penjelasan Bohr tentang atom hidrogen melibatkan gabungan antara teori klasik dari Rutherford dan teori kuantum dari Planck, diungkapkan dengan empat postulat, sebagai berikut:
1)      Hanya ada seperangkat orbit tertentu yang diperbolehkan bagi satu elektron dalam atom hidrogen. Orbit ini dikenal sebagai keadaan gerak stasioner (menetap) elektron dan merupakan lintasan melingkar disekeliling inti.
2)      Selama elektron berada dalam lintasan stasioner, energi elektron tetap sehingga tidak ada energi dalam bentuk radiasi yang dipancarkan maupun diserap.
3)      Elektron hanya dapat berpindah dari satu lintasan stasioner ke lintasan stasioner lain. Pada peralihan ini, sejumlah energi tertentu terlibat, besarnya sesuai dengan persamaan planck, ΔE = hv.
4)      Lintasan stasioner yang dibolehkan memilki besaran dengan sifat-sifat tertentu, terutama sifat yang disebut momentum sudut.
Menurut model atom bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat energi. Tingkat energi paling rendah adalah kulit elektron yang terletak paling dalam, semakin keluar semakin besar nomor kulitnya dan semakin tinggi tingkat energinya.
Kelebihan atom Bohr :bahwa atom terdiri dari beberapa kulit untuk tempat berpindahnya elektron.
Kelemahan Model Atom Niels Bohr :
1)   Hanya dapat menerangkan spektrum dari atom atau ion yang mengandung satu elektron dan tidak sesuai dengan spektrum atom atau ion yang berelektron banyak.
2)   Tidak mampu menerangkan bahwa atom dapat membentuk molekul melalui ikatan kimia.
3)   Model atom ini adalah tidak dapat menjelaskan efek Zeeman dan efek Strack.

1.2. BILANGAN KUANTUM
Perpindahan elektron dari satu lintasan ke lintasan lain menghasilkan spektrum unsur berupa spektrum garis. Apabila dilihat lebih teliti, ternyata garis spektrum tersebut tidak hanya terdiri atas satu garis, melainkan beberapa garis yang saling berdekatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lintasan elektron terdiri atas beberapa sub lintasan. Dalam lintasan elektron tersebut dapat ditemukan elektron. Kedudukan elektron dalam atom dapat dinyatakan dengan bilangan kuantum, yaitu:
a. Bilangan Kuantum Utama (n)
Bilangan kuantum utama menggambarkan lintasan elektron atau tingkat energi utama yang dinotasikan dengan n. Semakin besar nilai n, semakin besar pula nilai rata-rata energi kulit tersebut. Karena semakin jauh letak elektron dari inti atom, energinya semakin besar. Dengan kata lain, semakin besar nilai n, letak elektron semakin jauh dari inti atom. Lintasan tersebut dalam konfigurasi elektron dikenal sebagai kulit. Bilangan kuantum utama digunakan untuk menentukan tingkat energi atom atau kulit atom. Bilangan kuantum utama memiliki semua bilangan positif dari 1,2,3,4 dan seterusnya, sama seperti pada teori Niels bohr yang menyatakan kulit atom dengan K,L,M,N dan seterusnya.





Tabel 1. Bilangan kuantum utama(n)
Contoh: 3s²= Maka bilangan kuantum utamanya adalah 3.
2p³= Maka bilangan kuantum utamanya adalah 2.
b.   Bilangan Kuantum Azimut (l)
Bilangan kuantum azimuth menggambarkan subkulit atau subtingkat energi utama yang dinotasikan dengan l. Bilangan kuantum azimut menentukan bentuk orbital dari elektron. Notasi huruf digunakan untuk menunjukkan pelbagai nilai l.
Description: http://rinioktavia19942.files.wordpress.com/2011/06/struktur-atom-11.jpg?w=490&h=60
Empat notasi huruf pertama menunjukkan spektrum atom logam alkali (litium sampai cesium). Empat seri garis spektrum ini menyatakan tajam (sharp), utama (principal), baur (diffuse), dan seri dasar (fundamental), yang dinotasikan dengan huruf s, p, d, dan f. Untuk l  = 4, 5, 6, dan seterusnya, notasi hurufnya cukup dengan meneruskan secara alfabet. Subkulit dalam kulit ditunjukkan dengan menuliskan nilai n (bilangan kuantum utama) diikuti dengan nilai l (bilangan kuantum azimut). Ketentuan nilai subkulit (l ) bergantung pada nilai kulit (n), yaitu
Description: http://rinioktavia19942.files.wordpress.com/2011/06/struktur-atom-14.jpg?w=490
Contohnya:
Jika n = 3, maka bilangan kuantum azimut yang mungkin dimiliki adalah 0,1 dan 2 Jika n = 2, maka bilangan kuantum yang mungkin dimiliki adalah 0 dan 1
c. Bilangan Kuantum Magnetik (m)
Bilangan kuantum magnetik menyatakan orientasi orbital dalam subkulit yang dinotasikan dengan m. Dengan demikian, setiap orbital dalam subkulit tertentu dapat dibedakan orientasi orbitalnya dengan bilangan magnetik. Bilangan magnetik dinyatakan dengan bilangan bulat.
Tabel 2. Bilangan kuantum
Description: http://rinioktavia19942.files.wordpress.com/2011/06/struktur-atom-16.jpg?w=490&h=324
Nilai m dapat dirumuskan sebagai berikut:
Description: http://rinioktavia19942.files.wordpress.com/2011/06/struktur-atom-17.jpg?w=490
Contoh:
l = 2, maka bilangan kuantum magnetiknya: -2,-1,0,+1,+2
 l = 1, maka bilangan kuantum magnetiknya : -1,0,+1
d.   Bilangan Kuantum Spin (s)
Bilangan kuantum spin menggambarkan arah rotasi atau putaran elektron dalam satu orbital yang dinotasikan dengan s. Karena hanya ada 2 arah putaran yang mungkin yaitu searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam, maka setiap orbital memuat 2 elektron dengan arah rotasi yang berlawanan. Arah rotasi pertama ditunjukkan ke atas dengan notasi s = +½ atau rotasi searah dengan arah putaran jarum jam. Sedangkan arah ke bawah menunjukkan notasi s = -½ atau berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Arah putaran yang mungkin yaitu: mengarah keatas dengan nilai + ½, dan mengarah kebawah dengan nilai - ½.
 Description: http://rinioktavia19942.files.wordpress.com/2011/06/struktur-atom-18.jpg?w=490

1.3. KONFIGURASI ELEKTRONIK
Konfigurasi elektron adalah susunan elektron dalam atom. Susunan ini ditentukan oleh jumlah elektron yang bergerak mengelilingi inti atom pada lintasan yang disebut kulit atom. Kulit pertama diberi nama K, selanjutnya L, M, N, dan seterusnya. Aturan pengisian jumlah elektron maksimum per kullit diperkenalkan oleh Pauli, dengan memakai rumum 2n2, dimana n=kulit atom. Berikut jumlah elektron maksimum per kulit:
Tabel 3. Jumlah elektron maksimum
Pengisian elektron dalam orbital-orbital memenuhi beberapa peraturan. antara lain:
1.Prinsip Aufbau : Elektron-elektron mulai mengisi orbital dengan tingkat energi terendah dan seterusnya.
Orbital yang memenuhi tingkat energi yang paling rendah adalah 1s dilanjutkan dengan 2s, 2p, 3s, 3p, dan seterusnya.
Contoh pengisian elektron-elektron dalam orbital beberapa unsur:
Atom H : mempunyai  1 elektron, konfigurasinya 1s1
Atom C: mempunyai  6 elektron, konfigurasinya 1s2 2s2 2p2
Atom K : mempunyai 19 elektron, konfigurasinya 1s2 2s2 2p6 3S2 3p6 4s1
2.Prinsip Pauli : Tidak mungkin di dalam atom terdapat 2 elektron dengan keempat bilangan kuantum yang sama.
Hal ini berarti, bila ada dua elektron yang mempunyai bilangan kuantum utama, azimuth dan magnetik yang sama, maka bilangan kuantum spinnya harus berlawanan.
3.   Prinsip Hund : Cara pengisian elektron dalam orbital pada suatu sub kulit ialah bahwa elektron-elektron tidak membentuk pasangan elektron sebelum masing-masing orbital terisi dengan sebuah elektron.
Tata Cara Penulisan Konfigurasi Elektron :
a.       Ketahui dahulu nomor atom unsur
b.      Tulislah perlambangan unsur dan nomor atomnya ( Cth.: 3Li)
c.       Isi elekton sesuai kulit dimulai dari Kulit K
d.      Kulit K harus terlebih dahulu diisi maksimum sesuai aturan Pauli
e.       Jika atom memiliki lebih dari 2 elektron, maka sisa elektron dimasukkan ke kulit berikutnya sampai mencapai maksimum
f.       Jika sisa elektron sesudah dimasukkan ke kulit berikutnya tidak dapat mencapai maksimum, maka diisi dengan elektron maksimum di kulit sebelumnya
g.      Selanjutnya jika kulit sebelumnya tidak memenuhi elektron maksimum, maka ditulis sebagai sisa pada kulit selanjutnya.
Elektron valensi adalah jumlah elektron maksimum pada kulit terluar atom (Jumlah elektron pada kulit terluar/yang paling akhir ditulis pada konfigurasi elektron). Atom-atom yang memiliki elektron valensi yang sama akan memiliki sifat kimia yang relatif sama/mirip, sebab elektron valensi menentukan sifat kimia suatu atom atau cara atom bereaksi dengan atom lain pada saat membentuk ikatan. Elektron valensi juga dipakai untuk menentukan/mengetahui letak golongan suatu atom pada Tabel Sistem Periodik Unsur.
Menentukan konfigurasi elektron dan elektron valensi unsur berikut ini:
1H, 3Li, 7N, 13Al, 34Se, 35Br, dan 37Rb
Unsur
K
L
M
N
O
P
Elektron valensi
1H
1





1
3Li
2
1




1
7N
2
5




5
13Al
2
8
3



3
34Se
2
8
18
6


6
35Br
2
8
18
7


7
37Rb
2
8
18
8
1

1

1.4.TABEL PERIODIK
Pada tabel periodik atau sistem periodik, unsur-unsur disusun berdasarkan nomor atomnya atau berdasarkan urutan jumlah electron. Ternyata, sistem periodik ini dapat menjelaskan sifat-sifat unsur pada periode dan golongan tertentu, dan menjelaskan alasan unsur-unsur dalam satu periode mempunyai sifat-sifat yang berbeda antara golongan yang satu dengan yang lainnya. Sifat-sifat dalam sistem periodik dapat diketahui melalui konfigurasi elektronnya, sehingga diketahui jumlah elektron sekitarnya.
Description: D:\DOCUMENT\MAKUL=S-6\ZAT PADAT\makalah fero n anti\tabel-kimia.jpg
a.      Periode
1)   Adalah lajur-lajur horizontal pada tabel periodik.
2)   SPU Modern terdiri atas 7 periode. Tiap-tiap periode menyatakan jumlah/ banyaknya kulit atom unsur-unsur yang menempati periode-periode tersebut.
Nomor Periode = Jumlah Kulit Atom
 
Jadi :

3)   Unsur-unsur yang memiliki 1 kulit (kulit K saja) terletak pada periode 1 (baris 1), unsur-unsur yang memiliki 2 kulit (kulit K dan L) terletak pada periode ke-2 dan seterusnya.
Contoh :
9F      : 2 , 7             periode ke-2
12Mg : 2 , 8 , 2         periode ke-3
31Ga  : 2 , 8 , 18 , 3 periode ke-4
Catatan :
a)   Periode 1, 2 dan 3 disebut periode pendek karena berisi relatif sedikit unsur.
b)   Periode 4 dan seterusnya disebut periode panjang.
c)   Periode 7 disebut periode belum lengkap karena belum sampai ke golongan VIII A.
d)  Untuk mengetahui nomor periode suatu unsur berdasarkan nomor atomnya, perlu mengetahui nomor atom unsur yang memulai setiap periode.
b.      Golongan
1)   Sistem periodik terdiri atas 18 kolom vertikal yang terbagi menjadi 8 golongan utama (golongan A) dan 8 golongan transisi (golongan B).
2)   Unsur-unsur yang mempunyai elektron valensi sama ditempatkan pada golongan yang sama.
3)  
Nomor Golongan = Jumlah Elektron Valensi
 
Untuk unsur-unsur golongan A sesuai dengan letaknya dalam sistem periodik :

4)   Unsur-unsur golongan A mempunyai nama lain yaitu :
a.    Golongan IA                = golongan Alkali
b.   Golongan IIA      = golongan Alkali Tanah
c.    Golongan IIIA    = golongan Boron
d.   Golongan IVA    = golongan Karbon
e.    Golongan VA      = golongan Nitrogen
f.    Golongan VIA    = golongan Oksigen
g.   Golongan VIIA   = golongan Halida / Halogen
h.   Golongan VIIIA          = golongan Gas Mulia
c.        Jari-Jari Atom
1)      Adalah jarak dari inti atom sampai ke elektron di kulit terluar.
2)      Besarnya jari-jari atom dipengaruhi oleh besarnya nomor atom unsur tersebut.
3)      Semakin besar nomor atom unsur-unsur segolongan, semakin banyak pula jumlah kulit elektronnya, sehingga semakin besar pula jari-jari atomnya.
Jadi dalam satu golongan (dari atas ke bawah), jari-jari atomnya semakin besar.
4)      Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), nomor atomnya bertambah yang berarti semakin bertambahnya muatan inti, sedangkan jumlah kulit elektronnya tetap. Akibatnya tarikan inti terhadap elektron terluar makin besar pula, sehingga menyebabkan semakin kecilnya jari-jari atom.
Jadi dalam satu periode (dari kiri ke kanan), jari-jari atomnya semakin kecil.
d.       Energi Ionisasi
1)      Adalah energi minimum yang diperlukan atom netral dalam bentuk gas untuk melepaskan satu elektron membentuk ion bermuatan +1.
2)      Jika atom tersebut melepaskan elektronnya yang ke-2 maka akan diperlukan energi yang lebih besar (disebut energi ionisasi kedua), dan seterusnya.
1EI 1< 2EI  < 3EI dan seterusnya.
3)      Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), EI semakin kecil karena jari-jari atom bertambah sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin kecil. Akibatnya elektron terluar semakin mudah untuk dilepaskan.
4)      Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), EI semakin besar karena jari-jari atom semakin kecil sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin besar/kuat. Akibatnya elektron terluar semakin sulit untuk dilepaskan.
e.       Afinitas Elektron
1)      Adalah energi yang dilepaskan atau diserap oleh atom netral dalam bentuk gas apabila menerima sebuah elektron untuk membentuk ion negatif.
2)      Semakin negatif harga afinitas elektron, semakin mudah atom tersebut menerima/menarik elektron dan semakin reaktif pula unsurnya.
3)      Afinitas elektron bukanlah kebalikan dari energi ionisasi.
4)      Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga afinitas elektronnya semakin kecil.
5)      Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga afinitas elektronnya semakin besar.
6)      Unsur golongan utama memiliki afinitas elektron bertanda negatif, kecuali golongan IIA dan VIIIA.
7)      Afinitas elektron terbesar dimiliki golongan VIIA.
f.       Keelektronegatifan
1)      Adalah kemampuan suatu unsur untuk menarik elektron dalam molekul suatu senyawa (dalam ikatannya).
2)      Diukur dengan menggunakan skala Pauling yang besarnya antara 0,7 (keelektronegatifan Cs) sampai 4 (keelektronegatifan F).
3)      Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan besar, cenderung menerima elektron dan akan membentuk ion negatif.
4)      Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan kecil, cenderung melepaskan elektron dan akan membentuk ion positif.
5)      Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga keelektronegatifan semakin kecil.
6)      Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga keelektronegatifan semakin besar.

2.      IKATAN ANTAR ATOM
2.1.   ENERGI IKAT DAN GAYA IKAT
Ketika atom didekatkan dari suatu jarak yang tak terbatas. Pada jarak jauh, interaksi bisa diabaikan, tetapi ketika atom saling mendekati, masing-masing memberikan gaya ke yang lainnya. Gaya ini ada dua macam, tarik atau tolak, dan besarnya merupakan fungsi jarak antar atom. Sumber gaya tarik FA tergantung pada jenis ikatan yang ada antara dua atom. Besarnya berubah dengan jarak. Akhirnya, kulit elektron terluar dari kedua atom mulai tumpang tindih, dan gaya tolak yang kuat FR mulai timbul. Gaya netto FN antar dua atom adalah jumlah kedua komponen tarik dan tolak, yaitu :
FN = FA+ FR
yang juga merupakan fungsi jarak antar atom. Jika FA dan FR sama besar, tidak ada gaya netto, sehingga:
FA + FR = 0
Kemudian kondisi kesetimbangan muncul. Pusat kedua atom tetap terpisah pada jarak keseimbangan ro. Pada sebagian besar atom, ro kira-kira 0,3 nm (3Å). Ketika sudah berada pada posisi ini, kedua atom akan melawan semua usaha untuk memisahkannya dengan gaya tarik, atau untuk mendorongnya dengan gaya tolak. Kadang-kadang lebih menyenangkan untuk menggunakan energi potensial antara dua atom daripada gaya. Secara matematik, energi (E) dan gaya (F) dihubungkan dengan :
E= dr
Atau untuk sistem atom:
EN=N dr
=A dr +R dr
=EA+ER
Gambar 1. a) Gaya repulsif, atraktif dan net sebagai fungsi dari jarak atom
b) Energi repulsif, atraktif dan net sebagai fungsi jarak atom
Dimana EN, EA dan ER masing-masing adalah energi netto, energi tarik dan energi tolak bagi dua atom yang terisolasi dan berdekatan. Gambar 1.b menggambarkan energi potensial tarik, tolak dan energi potensial netto sebagai fungsi jarak antar atom untuk dua atom. Untuk kurva netto, yaitu jumlah kedua energi, mempunyai energi potensial dititik minimum. Pada posisi ini spasi kesetimbangan yang sama, ro, bersesuaian dengan jarak atom pada kurva energi potensial minimum. Energi Ikat untuk kedua atom ini, Eo, bersesuaian dengan energi pada titik minimum ini, dimana menyatakan energi yang diperlukan untuk memisahkan kedua atom ini kejarak yang tak terbatas. Besar energi ikat ini dan bentuk energi vs kurva jarak antar atom berbeda dari satu material ke material lainnya, kedua variabel ini bergantung kepada jenis ikatan atom. Zat padat dibentuk dengan energi ikat yang besar, sedangkan energi ikat yang kecil lebih disukai oleh gas, kondisi cair berlaku bagi energi yang besarnya menengah. Pada umumnya untuk material padat, temperatur leleh dan sifat ikatannya mencerminkan besarnya energi ikat.
Dua atom akan saling terikat jika ada gaya ikat antara keduanya. Dalam membahas ikatan atom, tidak menggunakan pengertian gaya ikat ini melainkan energi ikat. Ikatan antar atom terbentuk jika dalam pembentukan ikatan tersebut terjadi penurunan energi total. Perubahan energi potensial terhadap perubahan jarak antar dua ion atau dua molekul dapat dinyatakan dengan persamaan
Vr = - +
Dengan: Vr = energi potensial total; r = jarak antar atom (nm)
a, b = konstanta tarik-menarik, konstanta tolak-menolak
m, n = konstanta karakteristik jenis ikatan dan tipe struktur
 a /rm = Vtarik adalah energi yang terkait dengan gaya tarik antar partikel
b / rn = Vtolak adalah energi yang terkait dengan gaya tolak
Untuk ion m = 1, sedangkan untuk molekul m = 6. Konstanta n disebut eksponen Born yang nilainya tergantung dari konfigurasi elektron, seperti tercamtum pada tabel 4.
Tabel 4. Eksponen Born
Gambar 2. dibawah ini memperlihatkan bentuk kurva perubahan energi sebagai fungsi dari jarak antar ion. Jarak r0 adalah jarak yang bersesuaian dengan energi minimum dan disebut jarak ikat. Karena ion selalu berosilasi maka posisi ion adalah sekitar jarak ikat r0. Oleh karena itu energi ikat dapat didefinisikan sebagai energi yang diperlukan untuk memisahkan ion dari jarak r0 ke jarak tak hingga. Energi disosiasi sama dengan energi ikat tetapi dengan tanda berlawanan.
Gambar 2. Kurva perubahan energi potensial
2.2.   IKATAN PRIMER
2.2.1.   Ikatan Ion
Ikatan ini terjadi karena adanya tarik-menarik antara dua ion yang berlawanan tanda. Ion itu sendiri terbentuk karena salah satu atom yang akan membentuk ikatan memberikan elektron kepada atom pasangannya yang memang memiliki kemampuan untuk menerima elektron. Dengan demikian terjadilah pasangan ion positif dan negatif, dan mereka saling terikat. Atom non metal memiliki hanya sedikit orbital p yang setengah terisi dan ia mampu menarik elektron luar ke dalam salah satu orbital yang setengah kosong tersebut. Atom F misalnya dengan konfigurasi 1s2 2s2 2p5 hanya memiliki satu dari tiga orbital p yang terisi satu elektron. Atom ini mampu menarik satu elektron luar untuk memenuhi orbital p sehingga menjadi ion F dengan orbital p yang terisi penuh. Sebaliknya, atom metal memiliki satu atau lebih elektron yang terikat longgar yang berada di tingkat energi yang terletak di atas tingkat energi yang terisi penuh; misalnya Li dengan konfigurasi 1s2 2s1 mudah melepaskan satu elektron dan menjadi ion Li+ dengan orbital 1s terisi penuh. Li dan F membentuk ikatan ion menjadi LiF. Ikatan ion terbentuk oleh adanya gaya tarik elektrostatik antara ion positif dan ion negatif. Energi potensial V dari pasangan ion akan menjadi lebih negatif jika jarak radial r semakin kecil. Dengan m = 1, energi yang terkait dengan gaya tarik antar ion adalah
Vtarik=
Walaupun demikian, jika jarak semakin pendek awan elektron di kedua ion akan mulai tumpang-tindih. Pada tahap ini, sesuai dengan prinsip Pauli, beberapa elektron harus terpromosi ke tingkat yang lebih tinggi. Kerja harus dilakukan pada ion-ion ini agar mereka saling mendekat; kerja ini berbanding terbalik dengan pangkat tertentu dari jarak antara pusat ion. Dengan demikian energi potensial total dari kedua ion dapat dinyatakan sebagai:
Vr=++ΔE
dengan ΔE adalah energi yang diperlukan untuk mengubah kedua atom yang semula netral menjadi kedua ion.
Bagaimana ikatan ion terbentuk antara atom A dan B dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut. Jika EA adalah energi elektron s terluar dari atom A, diperlukan energi sebesar 0 (E ) = E untuk melepaskan elektron dari atom A sehingga atom A menjadi ion; EA disebut potensial ionisasi. Setelah lepas dari atom A elektron tersebut menjadi elektron-bebas dengan potensial 0. Jika elektron ini kemudian masuk ke atom B, energinya akan menurun dari 0 menjadi EB; EB disebut afinitas elektron. Jadi perubahan energi netto adalah E = −EB (EA) = EA EB yang akan bernilai positif jika potensial ionisasi atom A lebih besar dari afinitas elektron atom B. gambar 3. memperlihatkan perubahan energi dalam pembentukan ikatan ion.
Gambar 3. Perubahan energi dalam pembentukan ikatan  ion
Pada gambar ini terlihat bahwa jika energi yang mengikat cukup besar (Vtarik), maka akan terjadi jumlah energi minimum dan energi minimum ini terjadi pada jarak antar ion r0. Pada jarak inilah terjadi keseimbangan antara gaya tarik dan gaya tolak antar ion. Penyimpangan jarak antar ion dari r0, baik mengecil maupun membesar, akan meningkatkan energi potensial sehingga selalu terjadi gaya yang mengarah ke posisi keseimbangan. Ikatan ion adalah ikatan tak berarah. Setiap ion positif menarik semua ion negatif yang berada di sekelilingnya dan demikian pula sebaliknya. Jadi setiap ion akan dikelilingi oleh ion yang berlawanan sebanyak yang masih memungkinkan, pembatasan jumlah ion yang mengelilingi ion lainnya terkait dengan faktor geometris dan terpeliharanya kenetralan listrik pada padatan yang terbentuk.
Biasanya ditemukan pada senyawa yang dibangun oleh unsur logam dan bukan logam. Atom logam akan memberikan elektron valensinya ke atom-atom non logam. Pada proses ini semua atom akan menjadi stabil atau mempunyai konfigurasi gas mulia dan bermuatan listrik, yaitu atom-atom ini menjadi ion. Natrium klorida (NaCl) adalah material ion klasik. Atom natrium bisa mendapatkan stuktur elektron neon (dan muatan positif tunggal) dengan menyerahkan satu elektron valensi 3s ke atom klorin. Setelah penyerahan elektron ini, ion klorin akan bermuatan negatif dan dengan konfigurasi elektron menyerupai argon, Pada natrium klorida, semua natrium dan klorin berada dalam bentuk ion. Jenis ikatan ini digambarkan secara skematik pada Gambar 4.
Gambar 4. Skema ikatan ionik natrium klorida (NaCl)
2.2.2.   Ikatan Kovalen
Contoh yang paling sederhana untuk ikatan kovalen adalah ikatan dua atom H membentuk molekul hidrogen, H2. Atom H pada ground state memiliki energi paling rendah. Namun karena elektron bermuatan negatif, maka jika ada atom H kedua yang mendekati, elektron di atom yang pertama dapat lebih dekat ke inti atom H kedua. Demikian pula halnya dengan elektron di atom H kedua dapat lebih dekat ke inti atom H pertama. Kejadian ini akan menurunkan total energi dari kedua atom dan terbentuklah molekul H2. Syarat yang diperlukan untuk terjadinya ikatan semacam ini adalah bahwa kedua elektron yang terlibat dalam terbentuknya ikatan tersebut memiliki spin yang berlawanan agar prinsip eksklusi Pauli dipenuhi. Energi total terendah dari dua atom H yang berikatan tersebut tercapai bila kedua elektron menempati orbital s dari kedua atom. Hal ini terjadi pada jarak tertentu, yang memberikan energi total minimum. Apabila kedua inti atom lebih mendekat lagi akan terjadi tolak-menolak antar intinya dan jika saling menjauh energi total akan meningkat pula. Oleh karena itu ikatan ini stabil.
Pada ikatan kovalen, konfigurasi elektron stabil diperoleh dengan membagi elektron antara atom yang berdekatan. Dua atom yang berikatan kovalen masing-masing akan menyumbangkan minimal satu elektron keikatan, dan elektron yang dipakai bersama bisa di anggap dipunyai bersama oleh kedua atom. Atom karbon mempunyai empat elektron valensi, sedangkan setiap atom hidrogen mempunyai sebuah elektron valensi. Setiap atom hidrogen bisa mendapatkan konfigurasi elektron helium (dua elektron valensi 1s) ketika atom karbon membaginya dengan satu elektron. Karbon sekarang mempunyai empat tambahan elektron, satu dari setiap hidrogen sehingga total elektron valensi menjadi delapan, dan struktur elektronnya adalah neon.
Gambar 5. Skema ikatan kovalen pada molekul metana (CH4)
Jumlah ikatan kovalen yang mungkin untuk suatu atom ditentukan oleh jumlah elektron valensi. Untuk elektron valensi n, sebuah atom bisa berikatan kovalen paling banyak 8-n dengan atom lainnya. Contohnnya: n=7 pada klorin, dan 8-n=1, artinya satu atom Cl bisa berikatan hanya dengan satu atom lainnya seperti Cl2. Dengan cara yang sama untuk atom karbon n=4, dan setiap atom karbon mempunyai 8-4 yaitu empat elektron untuk dibagi. Intan adalah struktur yang berinteraksi secara tiga dimensi dimana setiap atom karbon berikatan kovalen dengan atom karbon lainnya.
Ikatan kovalen bisa sangat kuat seperti pada intan, dimana intan sangat sangat keras dan mempunyai temperatur leleh yang sangat tinggi yaitu >3550°C (6400 °F ), atau ikatan kovalen bisa sangat lemah seperti pada bismut, dimana akan meleleh pada 270°C (518°F). Material polimer bercirikan ikatan ini, dimana struktur molekul dasar yang dipunyai rantai karbon yang panjang diikat bersama-sama secara kovalen dengan dua dari empat ikatan yang tersedia untuk setiap atomnya. Dapat terjadi ikatan antar atom mempunyai ikatan yang sebagian berikatan ion dan sebagian lain berikatan kovalen, dan kenyatannya sangat sedikit senyawa yang menunjukan murni mempunyai ikatan ion atau ikatan kovalen saja.
2.2.3.Ikatan Logam
Ikatan logam jenis ikatan primer terakhir, ditemukan pada logam dan paduannya. Material logam mempunyai satu, dua atau paling banyak tiga elektron valensi. Dengan model ini, elektron valensi tidak terikat kepada atom tertentu pada bahan padat namun lebih kurang ia akan bebas hanyut/bergerak melewati keseluruhan logam. Elektron ini bisa dianggap dimiliki oleh logam secara keseluruhan, atau membentuk “lautan elektron” atau “awan elektron. Gambar 6. memperlihatkan ilustrasi skematik ikatan logam.
Gambar 6. Skema ikatan logam
Ikatan ini bisa lemah atau kuat, jangkauan energinya antara 68 kJ/mol (0,7 ev/atom) untuk raksa hingga 850 kJ/mol (8.8 eV/atom) untuk wolfram. Temperatur leleh masing-masing berturut-turut adalah –390C dan 3410 0C.
2.3.   IKATAN SEKUNDER
IKATAN VAN DER WAALS
Ikatan sekunder, van der Waals adalah lemah jika dibandingkan dengan ikatan primer atau kimia, energi ikat biasanya dalam kisaran 10 kJ/mol (0,1 eV/atom). Ikatan sekunder timbul antara semua atom atau molekul, tapi keberadaannya tidak jelas jika salah satu dari ketiga jenis ikatan primer ada. Ikatan sekunder dibuktikan oleh gas mulia, yang mempunyai struktur elektron yang stabil, dan juga diantara molekul yang strukturnya berikatan kovalen. Gaya ikatan sekunder timbul dari dipol atom atau molekul. Pada dasarnya sebuah dipol listrik timbul jika ada jarak pisah antara bagian positif dan negatif dari sebuah atom atau molekul. Ikatan di hasilkan dari gaya tarik-menarik coulombik antara ujung positif sebuah dipol dan bagian negatif dari dipol yang berdekatan, sebagaimana ditunjukan pada Gambar 7. Interaksi dipol terjadi antara dipol-dipol terimbas, antara dipol terimbas dengan molekul polar (yang mempunyai dipol permanen), dan antara molekul-molekul polar. Ikatan hidrogen, jenis khusus dari ikatan sekunder, ditemukan pada beberapa molekul dimana hidrogen sebagai salah satu komponen. Mekanisme ikatan ini akan dibicarakan secara singkat berikut ini.
Gambar 7. Skema ikatan van der walls dua dipole
a.      Ikatan Dipol Terimbas yang Berfluktuasi
Sebuah dipol bisa dihasilkan atau diimbaskan ke sebuah atom atau molekul yang simetris secara listrik, yaitu distribusi ruang keseluruhan elektron simetris terhadap inti bermuatan positif, sebagaimana diperlihatkan Gambar 8.a. Semua atom mengalami gerak vibrasi konstan, yang akan menyebabkan distorsi seketika dan berumur pendek, terhadap simetri listrik pada beberapa atom atau molekul, dan menimbulkan dipol listrik kecil, seperti yang digambarkan oleh Gambar 8.b.
Gambar 8. a) Skema ikatan elektron simetris
 b) Atom dipol listrik kecil
Salah satu dipol ini pada gilirannya bisa menimbulkan sebuah pergerakan pada distribusi elektron dari molekul atau atom yang berdekatan, yang membuat atom atau molekul kedua ini menjadi dipol yang kemudian dengan lemah ditarik atau diikat ke atom atau molekul yang pertama, ini adalah satu jenis ikatan van der Waals. Gaya-gaya tarik ini bisa timbul diantara sejumlah besar atom atau molekul, dimana gaya-gaya ini bersifat sementara dan berfluktuasi terhadap waktu. Proses pencairan dan proses pembekuan dari gas mulia dan molekul lain yang simetris dan netral secara listrik seperti H2 dan Cl2 dipercaya disebabkan oleh ikatan jenis ini. Temperatur leleh dan didih adalah sangat rendah pada material dimana ikatan dipol terimbas dominan, dan dari semua ikatan antar molekul yang mungkin terjadi, ikatan ini paling lemah.
b.      Ikatan Antara Dipol Molekul Polar dan Dipol Terimbas
Momen dipol permanen timbul pada beberapa molekul karena susunan yang tidak simetris dari daerah yang bermuatan positif dan negatif; molekul ini disebut molekul polar. Gambar 9.a adalah penggambaran skematik dari molekul hidrogen klorida, momen dipol permanen timbul dari muatan netto dari muatan positif dan negatif yang masing-masing berkaitan dengan ujung-ujung hidrogen dan klorin dari molekul HCl.
 
(a)                                                                                                                      (b)
Gambar 9.a) Skema molekul polar hydrogen chloride
b) Skema ikatan hidrogen dalam hydrogen fluloride.
Molekul polar bisa juga mengimbaskan dipol pada molekul non polar didekatnya, dan sebuah ikatan akan terbentuk sebagai hasil gaya tarik menarik antara dua molekul ini. Besar ikatan ini akan lebih besar daripada dipol terimbas yang berfluktuasi.
c. Ikatan Dipol Permanen
Gaya van der Waals juga akan timbul diantara molekul polar yang berdekatan. Energi ikat yang terkait lebih besar secara signifikan dari pada energi ikat yang ada pada dipol terimbas. Jenis ikatan sekunder yang paling kuat, ikatan hidrogen adalah kasus khusus dari ikatan molekul polar. Ikatan ini terjadi antara molekul dimana hidrogen berikatan kovalen dengan fluorin (sebagai HF), dengan oksigen (sebagai H2O), dan dengan nitrogen (sebagai NH3). Untuk setiap ikatan H-F, H-O atau H-N, elektron hidrogen tunggal dibagi bersama dengan atom lainnya. Maka, ujung hidrogen dari ikatan pada dasarnya adalah proton terbuka yang bermuatan positif, yang tak terlindungi oleh elektron. Ujung molekul yang bermuatan positif sangat tinggi ini mempunyai gaya tarik yang kuat terhadap ujung negatif dari molekul yang berdekatan, untuk HF. Besar ikatan hidrogen umumnya lebih besar dari ikatan sekunder jenis lainnya, dan bisa mencapai 51 kJ/mol (0,52 eV/molekul).



DAFTAR PUSTAKA

Budy, J.E. 1995, General Chemistry Principle & Structure Fith. Edition Singapore; Jhon Willey & Sons Inc, Depdiknas, Kurikulum KBK 2004. Jakarta.
Eti J. 2005. Struktur Atom dalam Fisika.Modul PPPG IPA. Bandung.
Keenan, Kleinfelter, 1999, Ilmu Kimia Untuk Universitas; Harper & Row. Publisher Inc. Erlangga. Jakarta.
Timoshenko, S. Dan D.H. Young. 1961. Elements of Strength of Materials. Canada : Van Nostrand Company, Inc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pengalaman mencari kerja dalam blog ini saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman mencari kerja yang umumnya bagi mereka yang masih ...